
PARA ulama Ormas (Organinasi Masyarakat) Islam Nahdlatul Ulama Indonesia telah menonjolkan perilaku sebahagian muslim yang berhaji lebih dari satu kali dalam kehidupannya. Hal itu menjadi perbahasan dalam forum bathsul masail pramuktamar yang diumumkan di Pesantren Krapyak, Yogyakarta, 28-29 Mac 2015 lalu, dengan peserta sekurang-kurangnya 40 kiai.
Beberapa kiai yang hadir dalam forum tersebut menyebut kewajiban haji hanya sekali sehingga kedua dan ketiga masuk kategori sunnah. Tetapi, jika haji kedua, ketiga dan seterusnya dilakukan dengan mengambil hak muslim lain untuk dapat mengerjakan haji, maka hal itu dihukumi haram.
Beberapa kyai mendasarkan hukum tersebut pada pandangan perilaku ghosob. Sehingga, mereka memandang ibadah haji lebih dari sekali telah merampas secara nyata hak kuota Muslim lain.
"Secara moral orang yang mengerjakan haji dua kali mencederakan maruah-nya (harga diri) kerana menghamburkan harta (israf)," ujar salah satu peserta yang merupakan Ketua LBM PWNU Yogyakarta KH Muzammil, seperti dilansir dalam laman nu.or.id, Jumaat, 3 April 2015.
Di samping itu, Muzammil mengutip pendapat Imam Al Ghazali dalam Ihya Ulumiddin yang menyatakan orang yang mengerjakan haji lebih daripada sekali termasuk terpedaya. Alasannya, orang yang bersangkutan lebih mengutamakan infaq untuk mengerjakan haji berkali-kali sementara ia meninggalkan jirannya dalam keadaan lapar.
Muzammil pun menguatkan pendapatnya dengan mengutip perkataan Ibnu Masud RA:
- "Di akhir zaman banyak orang haji tanpa sebab."
"Alangkah baiknya ia memperuntukkan dananya untuk kesejahteraan jiran di sekitarnya," ungkap dia. (IH/Ism)
No comments:
Post a Comment