Wednesday, March 06, 2013

Youtube Reformasi: Yasin Diugut Bunuh Puak Sasau..


HALAMAN HIBURAN

PUAK-PUAK sasau taksub dan fanatik anti reformasi yang bertanggung jawab dalam kes ugut ini. Kata editor weblog Ibnu Hasyim, Dr Hj Mohd Hasyim sebentar tadi.

Hal ini berlaku gara-gara sebuah video nyanyian bertajuk “Reformasi” yang dimuat naik ke laman YouTube, penyanyi dan komposer, Yasin Sulaiman, 39, diugut dengan ancaman bunuh oleh dua individu melalui laman berkenaan.


Komen yang berbunyi, “Yassin ni patut dibunuh jer.. “ dan “Aku kalau jumpa si Yassin ni kat luar comfirm aku pijak-pijak kepala dia sampai lumat” didapati dibuat pada awal malam semalam selepas kira-kira dua minggu video itu dimuat naik.


Yasin berkata, ugutan bunuh yang diterima melalui video lagunya itu membuktikan ada pihak tidak bertanggungjawab dan menyalahgunakan medium sosial tersebut.


“Perselisihan pendapat adalah perkara biasa dan sebelum ini saya pernah menerima pelbagai pandangan negatif. Namun ugutan bunuh adalah perkara serius.


“Saya tidak pasti sejauh mana seriusnya ugutan yang dibuat itu, namun saya tidak akan berdiam diri jika ia berterusan selepas ini,” katanya kepada Sinar Harian ketika ditemui di pejabatnya di Kota Damansara, semalam.


Justeru itu, Yasin memberi amaran kepada pengunjung laman sosial agar tidak sewenang-wenangnya meninggalkan komen berunsur ugutan dan fitnah terhadapnya sebelum dia mengambil tindakan undang-undang.


“Sekiranya saya silap dalam penulisan, kita boleh dialog, boleh mengkritik dengan platform yang betul. Bukan dengan ugut-mengugut begini.


“Saya harap individu terbabit berhentilah daripada melakukan perkara begini kepada sesiapa pun. Kebebasan bersuara perlu digunakan untuk kebaikan bukan untuk mengugut dan mencaci orang lain,” katanya kesal dengan perkara itu.

"Memang, puak-puak sasau ni suka ganggu, apa lagi bila dekat PRU 13 seperti sekarang. Mereka dengki sangat dengan laman sosial atau weblog-weblog sokong Pakatan Rakyat." Jelas Hj Mohd Hasyim lagi, yang juga berlaku ke atas blognya.. (IH)

L/Datu: Serangan Besar-besaran Mulai Pagi Ini..

KL: Serangan Ofensif oleh pasukan Polis DiRaja Malaysia (PDRM) dan Tentera bagi menangani kerisis pencerobohan bersenjata di Lahad Datu, akan diteruskan sehingga malam ini. Ketua polis negara Tan Sri Ismail Omar pada sidang akhbar pagi ini berkata, biarpun polis dan tentera mencapai objektif yang ditetapkan namun mereka masih menerima tentangan musuh yang melepaskan tembakan ke arah pasukan keselamatan negara.

Tinadakan ofensif di kawasan Kampung Tanduo, Lahad Datu pagi ini bermula jam 7 pagi tadi menggunakan jet pejuang. ATM menggunakan tiga unit pesawat pejuang F-18, lima unit pesawat pejuang Hawks dalam melakukan serangan bersama dengan pihak polis di darat dan anggota tentera.

Ismail juga berkata tiada kehilangan nyawa di pihak pasukan keselamatan manakala setakat ini jumlah kematian dan kecederaan di pihak musuh belum dapat disahkan. Pasukan keselamatan Malaysia kini juga katanya sedang menjalankan operasi pembersihan. Bagaimanapun, laman The Philippine Inquirer pula menyiarkan laporan jurucakap kesultanan Sulu Abraham Idjirani memberitahu satu stesen radio bahawa bom yang dilepaskan jet Malaysia jatuh ke kawasan berkenan tetapi tidak mengenai kumpulan bersenjata Sulu.

Idjirani berkata, maklumat itu disampaikan ketua kumpulan itu Azzimudie Kiram yang menghubunginya melalui telefon. Sementara itu, bernama melaporkan beberapa ambulan bergerak di sekitar pekan Chenderawasih yang terletak kira-kira tujuh kilometer dari Felda Sahabat 16, tempat kumpulan penceroboh didakwa berkampung.

Selepas serangan ofensif pada pukul 7 pagi ini, sekitar kawasan itu kini tenang dan terdapat banyak sekatan jalan raya di sepanjang jalan ke pekan dan menuju ke Kampung Tanduo. Bagaimanapun, bunyi deruan helikopter masih kedengaran di ruang udara kawasan itu dan di perairan pula kelihatan kapal-kapal Tentera Laut Diraja Malaysia (TLDM), Polis Marin dan Agensi Penguatkuasaan Maritim Malaysia (APMM) membuat rondaan.
Sementara itu, BERNAMA melaporkan  Malaysia menganggap penceroboh bersenjata Sulu yang membunuh lapan anggota keselamatan Malaysia di Lahad Datu dan Semporna, Sabah, sebagai pengganas, dan ini turut dikongsi Setiausaha Luar Filipina, Albert F. Del Rosario.

"Setiausaha Rosario bersetuju kumpulan ini patut dilabelkan sebagai pengganas," kata Menteri Luar Datuk Seri Anifah Aman dalam kenyataan hari ini.

Kedua-dua mereka mengadakan pertemuan di ibu negara Malaysia ini malam tadi untuk membincangkan perkembangan yang berlaku di kedua-dua pekan di Sabah itu. (IH)

Lihat [Perkembangan Krisis Percerobohan di Sabah - KLIP VIDEO FOTO]


Lihat keseluruhan..

E-Buku IH-65: Kesultanan Sulu Darul Islam.

Siapa 'Penjahat' Dalam Konflik Lahat Datu Ini?

Pasukan Malaysia mengepung desa di Sabah yang dikuasai Kesultanan Sulu
Komen Dari Indonesia..
'Konflik Sulu di Sabah Kian Meluas'

KONFLIK bersenjata antara pasukan Kesultanan Sulu dan tentara Malaysia terus terjadi hingga Minggu malam lalu. Puluhan korban dilaporkan tewas, warga setempat dan tentara Malaysia mewaspadai masuknya orang-orang Kesultanan Sulu ke berbagai daerah di Sabah.

Konflik yang awalnya terisolir di Lahad Datu, kini meluas hingga ke wilayah Semporna yang jaraknya terpaut 300 kilometer. Konflik itu menambah panjang daftar korban tewas dari kedua kubu. Menurut Minda News, sebuah kantor berita di Mindanao, korban telah mencapai 27 orang. Sebanyak 14 di antaranya adalah orang Sulu, tujuh tentara Malaysia, seorang pemilik rumah tempat Agbimuddin tinggal di desa Tanduo, dan Imam Maas dan keempat putranya.

Korban terakhir tewas di desa pesisir Simunul, Semporna, pada Sabtu lalu. Tidak ada media Malaysia yang memberitakan perihal kematian imam Maas dan keempat putranya. Media di Filipina ABS-CBN News memberitakan, Imam Maas ditembak tentara Malaysia karena diduga membantu dua kerabat Kesultanan Sulu, yaitu Datu Alianapia Kiram, adik Sultan, dan Datu Amer Bahar Kiram, keponakan Sultan.

Menurut juru bicara Sulu, Abraham Idjirani, keduanya memang telah tinggal selama bertahun-tahun di Sabah dan sama sekali tidak ada hubungannya dengan pendudukan Lahad Datu yang dipimpin Raja Muda Agbimuddin Kiram.

Idjirani mengatakan, untuk mencari anggota keluarga Kesultanan Sulu, kepolisian Malaysia menggunakan dalih pemeriksaan pendatang ilegal dari Filipina. Polisi Malaysia memasuki rumah-rumah warga dengan paksa dan sampai ke rumah imam Maas. Imam yang berasal dari Filipina ini mengaku melayani kedua Datu, nyawanya pun dihabisi.

Akibat pembunuhan ini, warga desa yang kebanyakan warga pendatang dari Filipina marah. Mereka menyerbu kantor polisi di Semporna pada Sabtu malam. The Star menuliskan, lima orang polisi Malaysia tewas saat memasuki desa tersebut. Idjirani mengatakan, seorang pejabat tinggi militer Malaysia, seorang anggota  polisi dan seorang pejabat sipil dilaporkan disandera.

Alim Hashim Mudjahab, ketua Komite Dewan Islam Front Pembebasan Islam Moro (MNLF) dilansir Inquirer membenarkan pernyataan Idjirani. Menurutnya, para pendukung Kesultanan Sulu menyerbu pos polisi dan membebaskan lebih dari 100 orang Muslim Filipina yang ditahan sejak konflik pecah Jumat
lalu.

Konflik meluas ke Tawau, daerah sekitar 84km dari Semporna. Mudjahab mengatakan bahwa orang-orang Kesultanan Sulu menyerang konvoi truk militer Malaysia dengan melemparkan dinamit yang biasa dipakai untuk memancing ikan.

"Ketika kita berbicara saat ini (Minggu), ketegangan tersebar hingga Sandakan dan ada laporan bahwa warga asal Tausug (Moro, Filipina) yang tinggal di Kota Kinabalu siap melawan tentara Malaysia," kata Mudjahab.

"Penjahat dalam konflik ini adalah pemerintah Malaysia. Bukan Kesultanan Sulu yang meningkatkan konflik, tapi pemerintah Malaysia. Jika saja polisi Malaysia menunjukkan toleransi, belas kasihan, mereka seharusnya tidak melakukan tindakan ini," ujar Idjirani.

Menanggapi banyaknya perlawanan dari masyarakat, Kesultanan Sulu berlepas diri. Idjirani mengatakan, kemarahan warga itu adalah karena penyerbuan tentara Malaysia ke desa mereka. Padahal, warga Filipina di tempat itu sama sekali tidak terlibat pendudukan di Lahad Datu.

"Ini adalah upaya tidak terorganisir dari rakyat, yang tidak bisa lagi terima perlakuan pemerintah Malaysia terhadap mereka sejak tahun 1982," kata Idjirani.

Pemerintah Malaysia enggan disalahkan. Menurut versi mereka, lima orang polisi Malaysia terbunuh saat mencari sekelompok pasukan Sulu bersenjata yang masuk wilayah itu.

Menurut laporan polisi Malaysia ada sekitar 10 orang bersenjata dari Sulu yang terlihat berkeliaran di wilayah Kunak pada Sabtu malam lalu. Sebanyak 10 orang ini diketahui memasuki desa Long Malor dan desa Dasar Lama di Kunak.

Menurut Zulkifeli, pasukan Sulu ini datang menggunakan perahu kecil dari pulau Sibutu, sekitar 25 menit dari Semporna, beberapa minggu lalu. Itulah mengapa pasukan Malaysia sulit mendeteksi kedatangan mereka ini.

"Mereka datang menggunakan pakaian sipil, masuk ke Sabah, berkumpul dan mengganti ke seragam militer mereka. Kami menemukan dua tas berisi pakaian sipil," kata dia.

Malaysia siaga


Idjirani mengatakan bahwa saat ini banyak orang Sulu yang berangkat dari Basilan, Sulu, Tawi-tawi dan Semenanjung Samboanga telah masuk ke Malaysia. Mereka, kata dia, telah berada di Sabah dan ikut menyaksikan pemakaman para pengikut Agbimuddin yang tewas.

Masuknya para pengikut Kesultanan Sulu ini juga tercium oleh tentara Malaysia yang langsung menambah pasukannya di Sabah. Dua batalion dikirimkan ke Semporna dan Kunak.

Warga di Sabah juga meningkatkan kewaspadaan mereka. Pemerintah Sabah meminta seluruh wilayah untuk menerapkan siskamling dan mencurigai setiap orang yang tidak dikenal. Di antara yang menerapkan kesiagaan penuh adalah kota Marudu, Pitas dan Kudat di sebelah utara Sabah.

Bahkan di Pitas dan Kudat, polisi-polisi tidak diperbolehkan mengambil cuti atau liburan untuk ikut mengamankan desa. Selama 24 jam sehari, kota-kota di Sabah akan dijaga dengan ketat oleh warga dan polisi.

Situs berita Free Malaysia Today menuliskan bahwa beberapa pesawat tempur Malaysia terlihat diluncurkan dari Bandara Internasional Kota Kinabalu sepekan terakhir ini.

Kehadiran polisi dan militer di beberapa wilayah tidak juga mampu meredam ketakutan warga Sabah. Rumah-rumah di Semporna kosong setelah bentrokan Sabtu. Warga memilih mengungsi ke tempat aman. Warga yang memilih tinggal, tidak berani menyalakan lampu malam-malam. 


"Sekarang warga desa mematikan lampu lebih dini, khawatir nyala lampu malah mengundang orang asing dari laut ke rumah mereka," kata seorang warga Kinabalu, Siti, yang memiliki orangtua di Semporna.

Warga tidak ingin kecolongan. Sebelumnya, dengan percaya diri, tentara Malaysia mengatakan semuanya akan baik-baik saja. Namun yang terjadi sebaliknya, bentrokan pecah Jumat lalu dan menewaskan beberapa orang. Warga semakin kaget mendengar laporan orang-orang Sulu berada di beberapa tempat, tidak hanya di Lahad Datu.

Berbicara di Manila, Sultan Jamalul Kiram III mengatakan bahwa ada sekitar 400 orang mereka di Sabah. Ini jauh sekali dari pernyataan Malaysia yang mengatakan bahwa hanya ada 130 orang Sulu, pria dan wanita di Tanduo.

Seruan perdamaian
 
 
Takbirr : Gambar Terbaik dari YDP PAS Semporna..  
{Kes Lahad Datu} Berani Tanggung Risiko..Takbir
Pimpinan PAS Semporna berani tanggung risiko turun ke kawasan kejadian untuk mengetahui lebih dekat lagi keadaan semasa [3 gambar]

YDP PAS Semporna menyampaikan sedikit sumbangan sebagai tanda berterima kasih kepada Pasukan Keselamatan yang sedang bertugas menjaga keselamatan di Semporna

Bahaya tiada dalam kamus hidup pejuang PAS

Pemerintah Filipina Sabtu pekan lalu kembali mendesak Kesultanan Sulu menarik pasukannya di Sabah. "Menyerah sekarang, tanpa syarat," kata Presiden Benigno Aquino.

Filipina menegaskan bahwa permasalahan ini harus diselesaikan dengan negosiasi di tanah air. Pemerintahan Aquino juga menekankan bahwa mereka tidak mengabaikan klaim Kesultanan Sulu atas Sabah.

"Tidak pernah sekalipun kami mengabaikan klaim mereka. Kami tahu bahwa keluarga Kiram mengklaim Sabah dan kami tidak merendahkannya," kata Sekretaris Komunikasi Strategis Istana Malacanang Ricky Carandang kepada Radyo Inquirer kemarin.

Seruan untuk berdamai juga datang dari berbagai organisasi Muslim di Filipina. Salah satunya adalah Komisi Nasional Warga Muslim Filipina (NCMF) yang menyerukan seluruh pihak di Filipina dan Malaysia untuk menahan diri dan melakukan langkah diplomatis tanpa kekerasan.

Ketua Front Pembebasan Nasional Moro (MNLF), Nur Misuari, mengatakan bahwa kedua pihak harus berkepala dingin dan segera menyudahi pertumpahan darah. Dia juga menyerukan pada Perdana Menteri Malaysia Najib Razak untuk berhenti mengirimkan pasukannya dan merendahkan suaranya dalam menghadapi masalah ini.

Untuk Sultan Sulu, Misuari menghimbau untuk tidak membuat situasi bertambah parah dengan komentar-komentarnya. "Kita harus berbicara seperti layaknya saudara," kata dia.

Institut Al Qalam untuk Identitas Islam dan Dialog di Asia Tenggara, sebuah organisasi di Universitas Davao, menyerukan dihentikannya kekerasan di Sabah. Institusi ini mengingatkan bahwa hidup dalam Islam berarti hidup damai.

"Wujud paling tinggi dari jihad adalah jihad melawan diri kita sendiri dan keinginan-keinginan kita. Sekarang waktunya untuk berbicara perdamaian. Jika kita tidak melakukan ini, maka kita akan mengulang kesalahan yang sama," tulis pernyataan Al Qalam.(
IH/Denny Armandhanu)

Tambahan   
Rentetan Serangan Ke Atas Pencerobohan Lahad Datu  
Penceroboh berjaya ditewaskan, kata sumber polis
Pasukan keselamatan telah melancarkan serangan ke atas kumpulan penceroboh bersenjata di Kampung Tanduo, Lahad Datu pada jam 7 pagi ini.

LAPORAN LANGSUNG

11.35am: The Star yang memetik sumber polis melaporkan, kumpulan penceroboh bersenja di Kampung Tanduo berjaya ditewaskan sepenuhnya. Ia tidak melibatkan sebarang kemalangan jiwa pasukan kita, lapor laman itu.

1125am: Satu-satunya stesen minyak di kawasan Felda Sabahabt kehabisan petrol. Kawasan itu terletak kira-kira 15km dari Kampung Tanduo yang menjadi medan pertempuran.

11.10am: Bercakap dalam satu akhbar, Ketua Polis Negara, Tan Sri Ismail Omar berkata operasi masih berjalan dan pihak keselamatan yang terdiri daripada anggota PDRM dan tentera mendapat tentangan dalam bentuk beberapa das tembakan yang dilepaskan oleh pihak musuh.

Katanya, ketika ini pasukan keselamatan sedang menjalankan pengeledahan terhadap beberapa buah rumah di kampung tersebut. Ketika sidang akhbar itu diadakan, beliau berkata, setakat ini tidak ada kehilangan nyawa di pihak keselamatan di pihak PDRM dan tentera.

11.02am: Pekerja ladang kelapa sawit dilihat berkumpul di bawah satu pondok sementara. Mereka diminta menangguhkan tugas sementara polis memperluaskan kawalan di sekeliling ladang tersebut yang terletak hampir dengan kawasan pertempuran

Turut bersama pekerja tersebut ialah seorang penduduk, Sabri Abdullah, 49, yang tidak dapat pulang disebabkan kawalan polis.

"Saya menunggu untuk pulang sejak pagi ini. Saya lapar dan tidak ada makanan," katanya kepada Malaysiakini. Tambahnya, mereka orang miskin dan tidak mempunyai wang dan terpaksa menyediakan makanan sendiri.

11am: Datuk Seri Najib Razak berkata operasi besar-besaran hari ini bermula dengan serangan udara menggunakan pesawat TUDM, serangan mortar dan diikuti serangan oleh pasukan tentera darat dan polis.

"Kita bermula dengan serangan udara melalui pesawat TUDM diikuti dengan kekuatan mortar dan pada saat saya sedang berucap ini, pasukan tentera darat dan anggota polis, dalam kereta dengan anggota yang mengikuti dibelakang sedang melakukan tindakan untuk memberkas, menumpas pasukan yang telah melanggar kedaulatan negara,"katanya.

Menurutnya, tindak tanduk "yang berhemah" tersebut, pada awalnya tidak ada niat lain melainkan untuk tidak membenarkan setitik darah tertumpah di bumi Sabah, sama ada rakyat Malaysia atau kumpulan yang menceroboh.

"Namun umat dukacita, niat murni kita telah dibalas dengan tembakan dengan sangat kejam yang dilakukan kepada pasukan polis kita," katanya dalam satu majlis di Bukit Jalil.

Beliau juga menyelar golongan yang tergamak mengatakan bahawa kejadian pencerobohan oleh kumpulan bersenjata di Lahad Datu sebagai “sandiwara”.

Tanpa menamakan individu berkenaan, Najib berkata tindakan itu merupakan "perbuatan yang keji" oleh orang yang “tak ada isi perut”.

"Ada orang yang tergamak bahawa ini satu sandiwara. Saya tak tahu nak kata apa kepada manusia yang tergamak cakap begitu.
"Tak ada isi perut. Ini satu perbuatan yang keji... Kita perlu tolak orang seperti ini," kata Najib

10.57am: Polis memperluaskan kawalan dari kawasan konflik ke kawasan luar dan menutup semua pintu masuk ke Kampung Tanduo.

Anggota polis dengan raifal dilihat mengambil kedudukan di kawasan ladang sawit sebagai persediaan untuk menghadapi penceroboh yang lolos.

10.45am: Media Filipina melaporkan jurucakap presiden negara itu Benigno Aquino berkata Manila melakukan apa yang termampu untuk mengelakkan situasi di Sabah berakhir dengan keganasan.

“Kami melakukan semua yang kami mampu untuk mengelakkannya, namun akhirnya orang (Jamalul) Kiram memilih jalan ini,” kata Setiausaha Ricky Carandang.

10.43am: Kedutaan Filipina di Kuala Lumpur mendedahkan satu pertemuan diadakan pada malam tadi di antara setiausaha luar negaranya Albert F del Rosario, menteri luar Malaysia Datuk Seri Anifah Aman dan menteri pertahanan Datuk Seri Ahmad Zahid Hamidi.

Pertemuan di Kuala Lumpur itu bagi membincangkan langkah untuk penyelesaian aman berhubung situasi di Lahad Datu.

10.17am: Memetik laporan dari ANC News Channel, InterAksyon.com melaporkan bahawa bom telah digugurkan kira-kira satu kilometer jauhnya dari kubu Azzimudie Kiram dan orang-orangnya.

Azzimudie berkata pihaknya tidak pasti sama ada bom tersebut mensasarkan mereka atau pengikut mereka, tetapi mereka kekal selamat dan bersedia untuk bertempur. Sementara itu di Manila, sekumpulan penunjuk perasaan tiba di kedutaan Malaysia untuk mengutuk serangan itu.

10.15am: Azzimudie Kiram, pemimpin penceroboh, meluahkan kemarahannya terhadap kerajaan Filipina, dalam temubual radio dengan InterAksyon.com - portal berita dalam talian saluran TV Filipina TV5.

"Kerajaan mengarahkan penangkapan sahabat kita walaupun kita tidak melakukan apa-apa yang buruk," katanya. "Ia seperti kita bulan rakyat Filipina."

Sementara itu, Abraham Idjarani, jurucakap kesultanan, memberitahu stesen radio dzBB bahawa Azzimudie telah menelefon untuk memberitahu mereka tentang serangan tersebut.

"Tidak ada apa yang dapat dilakukan tentang itu sekarang," kata Idjirani dalam satu wawancara berasingan dengan AFP.

Beliau mengulangi pengumuman awal Azzimudie bahawa mereka akan berjuang hingga ke akhir ayat.

"Kami bukan penceroboh. Mereka (rakyat Malaysia) adalah orang yang menduduki tanah nenek moyang kami," katanya.

10.09am: Pihak polis telah menubuhkan pusat pemeriksaan di jalan utama di Tanjung Labian, iaitu kira-kira 5km dari medan pertempuran. Tiada siapa dibenarkan masuk ke kawasan itu. Bunyi letupan telah berhenti sejak sejam yang lalu. Tidak jelas sama ada tentera darat telah dikerah masuk ke Kampung Tanduo.

10.05am: Di Manila, pasukan polis dan wartawan berkumpul di luar kedutaan Malaysia. Mereka menjangka satu kumpulan penunjuk perasaan akan tiba di sana.

9.55am: Azzimudie Kiram mengesah dalam temubual dengan radio dzMM ABS-CBN bahawa pasukan Malaysia menggunakan jet pejuang dalam serangan terbaru itu ke atas kedudukan mereka di Lahad Datu.

Pemimpin tentera diraja itu juga melahirkan kekecewaan terhadap pendirian Presiden Filipina Benigno Aquino berhubung krisis tersebut. Beliau berkata kerajaan Malaysia dan Filipina jelas telah berhenti mendengar gesaan mereka untuk menyelesaikan krisis tersebut secara aman.

9.45am: Menurut ABS-CBNnews, sebelum serangan, pagi ini Azzimudie Kiram, yang mengetuai kumpulan bersenjata di Kampung Tanduo, memberitahu radio dzMM bahawa dia tidak risau dengan rancangan kerajaan Malaysia untuk membawa lebih ramai tentera ke Sabah untuk membanteras mereka.

Azzimudie berkata dia dan tenteranya akan tidak akan berganjak walaupun kerajaan Malaysia dan Filipina telah berulangkali menggesa mereka supaya menamatkan pencerobohan tersebut.

"Ini adalah masa. Kami perlu komited untuk memperjuangkan hak kami. Saya meminta mereka (Filipina) melakukan sesuatu untuk menyokong kami.
"Mereka tidak boleh menakutkan kami kerana kami berjuang untuk hak kita - hak Bangsa Sulu dan secara umum, rakyat Filipina. Iaitu, jika kerajaan Filipina masih menganggap kami adalah rakyat Filipina," katanya.

9.41am: Stesen radio Filipina dzBB melaporkan bahawa Abraham Idjarani, jurucakap kesultanan Sulu, berkata Azzimudie Kiram, adik sultan yang mengetuai pencerobohan itu, mengesahkan jet pejuang telah menggugurkan sekurang-kurangnya dua butir bom.

Bagaimanapun, Idjirani mendakwa bom mengenai kedudukan penduduk Malaysia dan bukan kumpulan Azzimudie. Stesen radio itu juga berkata pertempuran itu berlaku 107 tahun selepas bermulanya Perang Bud Dajo di Sula pada 1906 . Dalam pertempuran itu 1,000 Tausug, termasuk wanita dan kanak-kanak, telah dibunuh oleh tentera Amerika juga dikendali sebagai Pembunuhan Bud Dajo.

9.37am: Menurut sati sumber tentera, operasi yang terlibat jet pejuang, meriam serta askar berjalan kaki.

9.15am: Di bandar Lahad Datu, kira-kira 120km dari medan pertempuran, persediaan sedang dibuat di hospital utama bagi menerima mangsa serangan tersebut.

9.11am: Difahamkan tujuh batalion tentera dikerahkan ke kawasan tersebut untuk mengukuhkan pasukan polis.

8.54am: Seorang pegawai Felda tiba dan memberitahu ketua kampung untuk membuat kiraan jumlah penduduk dan mendaftarkan mereka. Seluruh penduduk kampung sekitar 300 orang beredar dari tempat itu menuju ke jalan kebun kelapa sawit.

8.45am: Penduduk Kampung Sungai Merah meninggalkan kediaman mereka dengan menaiki lori, dengan hampir seratus orang memenuhi setiap kenderaan. Ketua kampung, Bani Rauf berkata mereka telah cuba ke Kampung Embara Budi tetapi tidak dibenarkan masuk.

"Pengawal kata mereka tidak akan benarkan kami masuk, jadi kami datang ke sini," katanya. Mereka berhimpun di di jalan utama dari Kampung Tandou menunggu apa yang perlu dilakukan selepas ini.

8.19am Pasukan keselamatan telah melancarkan serangan ke atas kumpulan penceroboh bersenjata di Kampung Tanduo, Lahad Datu pada jam 7 pagi ini, kata Perdana Menteri Datuk Seri Najib Tun Razak dalam satu kenyataan hari ini.

Gerakan ke atas penceroboh dimulakan kira-kira pukul 7 pagi dengan serangan udara. Pada awalnya kedengaran bunyi jet mengisi ruang udara kampung itu diikuti dengan bunyi tiga letupan setengah jam kemudian.

Serangan ofensif udara dilakukan jet pejuang F18 dan Hawk diikuti mortar dan gerakan di darat oleh anggota tentera. Pasukan komando di barisan hadapan yang mengepung kawasan itu dilihat merapati kawasan perkampungan diikuti dengan Pasukan Gerakan Am.

Di Felda 16, kira-kira 20 kilometer dari Kampung Tanduo dilaporkan letupan ketiga paling kuat sehingga menggegarkan cermin kafe Residental Felda Sahabat tempat wartawan menginap. Dua helikopter Nuri kelihatan melalui ruang udara kawasan itu.

Penduduk Kampung Labian dan Kampung Batu berhampiran Kampung Tanduo dipindahkan malam tadi dan polis dijadual mengadakan sidang akhbar pada pukul 10 pagi.

azlan8:18am: Letupan kedengaran berhampiran Kampung Tandou yang diduduki sekumpulan penceroboh asing, pada kira-kira jam 7:30 pagi ini, menyebabkan 100 penduduk kampung melarikan diri.

"Mereka telah mula mengebom kawasan itu. Kami nampak jet pejuang di udara, mereka mengebom tempat itu empat kali," kata seorang penduduk kampung, Nasir Asrama, 38.

Penduduk kampung tersebut adalah dari Kampung Sungai Merah, sebuah kampung jiran dengan Kampung Tandou di mana kira-kira 100 penceroboh bersenjara dari Filipina berkubu. Kampung Tandou terletak di antara Tanjung Labian dan Kampung Sungai Merah, masing-masing dalam 5km dan 2km.

http://www.malaysiakini.com/news/222912

Tuesday, March 05, 2013

50 Tahun T/Peneroka, Belum Lulus -Sdr Tun Razak


Pelan RTB Batu 18 yang menunjukkan sudah ada nombor lot.

PEKAN: Bayangkan, selepas 50 tahun meneroka dan mengusahakan tanah yang dijanjikan, sehingga kini 60 peneroka asal yang lebih separuh daripadanya sudah meninggal dunia itu masih gagal mendapatkan status tanah milik mereka.

Mereka ialah sanak saudara Allahyarham Tun Abdul Razak Hussein dari Kampung Pahang Tua, Lamir, dan Langgar yang digalakkan oleh Perdana Menteri Malaysia kedua itu mengusahakan sebidang tanah di Batu 18 Jalan Kuantan-Pekan.

Seorang peneroka asal tanah berkenaan Isa Mohd Nor, 76, yang ditemui di Pahang Tua kelmarin merupakan antara 20 orang yang terawal mengusaha dan meneroka tanah Rancangan Tanah Berkawal (RTB) Batu 18 iaitu sekitar tahun 1961.

Katanya, Allahyarham Tun Razak dan Menteri Besar Pahang ke-9 Allahyarham Datuk Seri Mohamad Jusoh yang juga berasal dari kampungnya yang suruh peneroka memohon tanah yang diusahakan itu.

“Dengan galakan tersebutlah yang menguatkan kami berulang dengan berbasikal sejauh lebih kurang 30 kilometer selama sejam lebih dengan membawa benih kelapa untuk ditanam di sana.

“Malangnya setelah memohon beberapa kali tapi tak dapat geran hak milik sehingga ke hari ini. Sekarang tinggal boleh bilang dengan jari sahaja lagi yang hidup, yang lain dah meninggal dunia.

“Walaupun sudah tiada kudrat tetapi dalam hati harap sokmo nak dapatkan tanah yang pernah kita usahakan dengan susah payah jerih penat itu, selagi ada sisa-sisa hayat nak juga tengok tanah itu jadi hak milik,” keluhnya sayu ketika ditemui kelmarin.

Isa yang kini sudah agak uzur, melahirkan rasa terkilan dan kecewa kerana orang luar boleh dapat tanah sedangkan beliau bersama orang-orang kampung sendiri telah menghamburkan titik peluh tetapi masih gagal mendapat geran hak milik tanah yang dijanjikan.

RTB Batu 18 seluas 64 hektar mula diteroka pada 1961 sebagai kawasan pertanian tetapi dipendamkan oleh pihak berkuasa daripada membuat keputusan mengenai status tanah itu.

Menurut maklumat, kerajaan negeri di bawah kepimpinan Mohamad Jusoh ketika itu bersetuju memberikan 0.8 hektar kepada 60 penama awal dan peringkat kedua yang memohon secara berkelompok selepas tanaman mereka berjaya mengeluarkan hasil sejak 1970.

Bagaimanapun, RTB berkenaan masih tidak memiliki geran hak milik tetap hingga ke hari ini.

Keadaan itu menyebabkan peneroka-peneroka tanah berkenaan bimbang kerana kerajaan negeri boleh mengambil alih tanah berkenaan pada bila-bila masa tanpa sebarang pampasan kerana tiada sebarang dokumen mengesahkan tanah itu mempunyi pemilik sah.

Akhirnya tanah tersebut ditinggalkan sehingga dipenuhi belukar dan hutan.

Seorang lagi yang pernah mengusahakan tanah tersebut peringkat awal, Ramlah Ibrahim, 68, berkata pada tahun 1961 beliau yang baru berkahwin telah mengikut arwah suaminya Razali Ismail mengusahakan tanah Batu 18.

Beliau yang tinggal di rumah PPRT Pahang Tua berkata, beliau masih ingat ketika itu berulang-alik bersama suaminya (yang telah meninggal pada tahun 2001) berbasikal pagi-pagi hari membawa benih kelapa, membawa bekal makanan dan pulang pada sebelah petang.

“Bayangkan pada masa itu pagar tidak ada, biasanya akan dimakan oleh binatang kerana musuh kuat sangat. Itu belum lagi cerita bagaimana terpaksa menghadapi ular, lipan, jengking dan pacat. Tetapi mengenangkan arwah Tun (Razak) suruh jayakan, ulang jugalah.

“Sebab itulah kami nak sangat jadi tanah Batu 18 jadi hak milik selagi masih hidup ini kerana masih tiada tanah sendiri, yang duduk ini tanah arwah pak mertua,” tegasnya.

Tambahnya lagi, beliau pernah berjanji dengan 8 orang anak-anak jika tanah itu lulus esok (nanti) masing-masing berhasrat untuk membina rumah di sana.

Muhamad Ibrahim, 47, yang terlibat menuntut hak ayahnya (Ibrahim Kasim) berkata wakil rakyat pernah berjanji dan beri jaminan untuk selesaikan isu geran tanah sebelum pilihan raya umum (PRU) 13.

“Saya hadir dalam satu mesyuarat di kampung Ubai 13 Januari tahun lalu dihadiri Adun Inderapura yang juga exco kerajaan negeri. Masa mesyuarat macam geran dah nak lulus hari esok dengan serah borang 5 A.

“Sekarang dah setahun... tidak ada pun, jadi nampak macam gimik saja nak harap-harapkan 60 peserta. Sebenarnya ada ayah dan anak yang memohon dulu, sekarang dua-dua dah meninggal dunia. Sekarang sebab banyak kali mohon, akhirnya bila tak dapat geran penduduk terpaksa tinggalkan kerana kecewa,” ujarnya.

Justeru Muhamad meminta pihak berkuasa menyelesaikannya segera. Katanya, cuba bayangkan jika isu ini berlaku di Kedah, Kelantan atau Selangor, sudah tentu siang malam akan dimainkan dalam televisyen dan akhbar.

Mohd Nazri Samad, 55, yang menuntut hak ayahnya (Samad Kasim) berkata sudah berapa kali wakil rakyat bertukar dan mereka berjanji terutama menjelang PRU tapi masalah penduduk tidak juga selesai.

Katanya, sebenarnya RTB Batu 18 itu sudah ada pancang batu, dah ada nombor lot, maknanya sudah sedia untuk diluluskan, tetapi rakyat kena tunggu sehingga setengah abad bahkan sudah ada berita mengatakan lot-lot tersebut ada yang dilapis oleh orang-orang politik atas nama peneroka awal.

“Kami dah hantar memorandum kepada orang nombor satu, Najib Tun Razak dengan serah tangan, dia dah tahu tapi tiada tindakan juga. Jadi seolah-olah orang kampung dah tiada tempat untuk mengadu.

“Yang mengusahakan itu semuanya puak sedara mara Tun Razak juga bukannya orang lain,” tegasnya.

Nazri yang pernah merasai kesusahan mengikut ayahnya berulang ke tanah itu berbasikal berkata, kini ayahnya berumur 88 tahun dan hampir nyanyuk, tetapi geran tanah masih belum dapat.

Fadzir Bidin, 45, yang menuntuk bagi pihak datuknya, percaya kemungkinan ada campur tangan politik menyebabkan geran tidak diperolehi peneroka awal.

Katanya, ada kemungkinan kawasan kebun itu duduk dalam Dun lain sedangkan pemohon bermastautin dan mengundi dalam Dun lain jadi seolah-olah tiada ‘desakan politik’ untuk menyegerakannya.

“Kami kesal bagaimana arwah tokki saya mengusahakan tanah itu tahun lalu tak boleh selesai, sedangkan orang luar boleh dijemput ke Pekan dan diberi penempatan, anak tempatan tidak ada apa yang dapat,” keluhnya kesal. (Hrkh)

Ini 2 Kepala Polis Dipotong Di Samporna? -Video




SEORANG unit keamanan Malaysia dipenggal kepala oleh penganas Sulu. Menurut sumber yang berada di Bandar Semporna, Seorang pegawai dan empat anggota Polis Diraja Malaysia (PDRM) terkorban dalam serangan hendap oleh sekumpulan lelaki bersenjata di Kampung Sri Jaya, Siminul, Semporna, Sabah, Sabtu. 

(Itu berita yang tersebar, walau pun ada yang mengatakan ianya khabar angin, dan itu gambar lama. IH) 

Insiden di lokasi tersebut telah mengorbankan 5 anggota polis berlaku dengan amat kejam, mereka telah bergegas ke lokasi kerana mendapat laporan kononnya terhadap sekumpulan lelaki bersenjata api. 

Tiba ditempat kejadian, Anggota polis itu ditembak semasa menuju ke sebuah premis di kampung berkenaan dan mereka membalas tembakan untuk mempertahankan diri,seorang ditembak tepat dikepala manakala 3 orang lagi ditembak dengan menggunakan mesingan. 

Seorang lagi pada ketika itu dijadikan tembusan dan berakhir dengan kepalanya dipenggal. Kejadian di perkampungan atas air pada pukul 8 malam itu turut menyebabkan dua anggota kumpulan bersenjata terbabit terbunuh.

Kelima-lima anggota polis dari Ibu Pejabat Polis Daerah Semporna itu ditugas untuk menjalankan siasatan di kampung berkenaan berikutan polis mendapat maklumat mengenai sekumpulan lelaki bersenjata di kampung itu.

(http://laksamanabukitbintang.blogspot.com/ Sumber )

 
Video: Enam Polis Dan Enam Penceroboh Terbunuh Di Samporna
Video..


Anggota polis mengawal ketat perkarangan Hospital Semporna bagi menanti ketibaan mayat anggota polis yang terbunuh. AZHAR MAHFOF/The Star

LAHAD DATU: Seorang lagi anggota polis terkorban dalam serangan hendap sekumpulan lelaki bersenjata di Kampung Sri Jaya, Siminul, Semporna, Sabah, menjadikan jumlah terkini anggota polis yang terkorban dalam insiden tersebut kepada enam orang. 


Ketua Polis Negara Tan Sri Ismail Omar berkata enam anggota kumpulan bersenjata itu juga terbunuh dalam kejadian pukul 8 malam di perkampungan atas air itu. Dalam operasi 'menyelamat' yang dilancarkan hari ini dan berakhir kira-kira 7 malam, Ismail berkata polis turut berjaya mengeluarkan 19 anggota polis dengan selamat dari Kampung Sri Jaya Simunul itu.

Dalam sidang media kira-kira 9 malam Ahad di Felda Sahabat, Kampung Tanduo di sini, Ismail berkata enam mayat anggota polis yang terkorban itu di hantar ke Hospital Semporna. 

"Identiti mangsa akan dimaklumkan kepada anggota keluarga terlebih dahulu sebelum dipaparkan di laman web rasmi PDRM," katanya. 

Dalam sidang media terdahulu pagi Ahad, Ismail mengumumkan lima anggota polis terkorban dalam insiden itu manakala dua anggota kumpulan itu terbunuh. Dalam sidang media sebelum ini, beliau berkata kelima-lima anggota polis dari Ibu Pejabat Polis Daerah Semporna itu ditugas untuk menjalankan siasatan di kampung berkenaan berikutan polis mendapat maklumat mengenai sekumpulan lelaki bersenjata di kampung itu.

Ismail juga memberitahu sidang media terdahulu itu bahawa anggota polis itu ditembak semasa menuju ke sebuah premis di kampung berkenaan dan mereka membalas tembakan untuk mempertahankan diri. Beliau turut menafikan terdapat insiden anggota polis yang didakwa menjadi tebusan kumpulan bersenjata itu dipenggal kepalanya.

"Itu hanya khabar angin dan saya minta orang ramai supaya tidak mempercayai sebarang khabar angin," katanya. Beliau memaklumkan keadaan di kampung berkenaan kini kembali seperti biasa.-BERNAMA

Ini Pula Gambar penceroboh maut dibelasah penduduk Semporna


Penceroboh_Maut

Penduduk Kampung Senallang Lama, Semporna membelasah sehingga mati penceroboh yang lengkap bersenjata M16. Ia disahkan oleh Pesuruhjaya Polis Sabah Datuk Hamza Taib. Gambar di atas dikatakan gambar penceroboh yang maut.

Menurut polis, lelaki 60-an tersebut berbangsa Sulu yang menyelinap masuk ke Kampung Senallang Lama melalui jalan pantai 5 pagi tadi. Kira-kira 80 penduduk dijadikan tebusan dengan mengarahkan mereka berkumpul di kawasan lapang oleh lelaki tersebut. 

Tindakannya menyebabkan 20 pemuda kampung tersebut naik angin dan bertindak menyerang dan membelasahnya hingga mati. Persoalannya, bagaimana tahap keselamatan di pengairan negara kita. Begitu mudah penceroboh menceroboh masuk.  

Mungkin mereka juga secara mudah masuk ke Sabah sebelum ini tetapi tak dihebahkan dan dihiraukan sehinggalah insiden pencerobohan kali ini. Kalau polis, mereka runding-runding dulu!!

 (http://www.ekeleh.com)

Gambar Penceroboh Sebelum Melancarkan Serang Hendap Di Semporna

Gambar ini di katakan diperolehi dari telefon bimbit penceroboh yang mati di tembak di Semporna. Penceroboh mengambil gambar kenangan mereka sebelum melancarkan serang hendap di Simunul dan sekitar daerah Semporna.(IH)


Lihat keseluruhan..

E-Buku IH-65: Kesultanan Sulu Darul Islam.

Siapa Artis Jaga Peiuk Nasi Semata-mata? -Abby

PASIR GUDANG – Selebriti dan pelakon yang sedang giat menyertai ceramah di atas pentas Pakatan Rakyat (PR), Abby Abadi, menyelar golongan artis yang menyokong Umno yang disifatkan sebagai hanya menjaga periuk nasi semata-mata.

Berceramah di Permas Jaya, di sini, malam kelmarin, beliau turut menyifatkan artis pada masa kini sebagai kurang peka terhadap perkembangan politik negara. Dakwanya, golongan artis terpaksa menyokong Umno kerana percaya rezeki berada di tangan parti yang dianggap keramat itu.

“Artis dipanggil ke program Umno sekadar untuk menarik orang ramai dan menghiburkan rakyat. Sedangkan tidak pernah diberi peluang bercakap mengenai politik di atas pentas kerana tidak diberi pendedahan.
“Situasi ini menjadi cabaran kepada saya untuk mentarbiah kawan-kawan kerana mereka menyokong Umno.
"Pada mereka kalau tak sokong Umno mereka tak ada ‘job’,” katanya yang mengakui tidak pernah mengundi dan percaya ramai rakan artis juga gagal berbuat demikian kerana tidak diberi pendedahan. (IH/SH)

Muat Lebih-lebih.. Kreatif ke?



JOM KREATIF
FOTO ini, muat barang lebih-lebih, kreatif ke? Ada orang kata, ini kerja gila, walaupun bawa barang niaga! Ada yanng guna beca, basikal, motosikal, kereta atau lori untuk bawa barang berlebihan. Gambar ini diambil di negara China, dimana alat transport roda dua dan empat digunakan sebagai alat pengangkut barang dagangan secara berlebihan.

Sepatutnya tak muat, tapi disumbat juga. Lihat foto-foto di bawah ini...
 







(IH)

Lihat sebelum ini..  
E-Buku IH-10: 'Siri Jom Kreatif, Pelik-pelik..' (1)
E-Buku IH-10: 'Siri Jom Kreatif, Pelik-pelik..' (1) E-Buku IH-53: 'Siri Jom Kreatif, Pelik-pelik..' (2)
E-Buku IH-53: 'Siri Jom Kreatif, Pelik-pelik..' (2)

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails